KAMI adalah SAKSI

Renungan PINGGIR,  Kisah Para Rasul 10 : 34 – 43 


Oleh Pdt. Jemmy R. Matheos.

SAKSI, dari kata Yunani “martyr” = saksi yang membela kebenaran sampai mati.  Secara sosiologis, banyak cara menciptakan dan menjadi martyr, untuk menjadi simbol perjuangan keadilan dan sosial.   Namun Martyr dalam perspektif Kristen berbeda. Saksi, adalah orang yang percaya dan menyerahkan hidupnya karena mengalami pengenalan dan perjumpaan secara utuh dengan Kristus.   Pengalaman spiritual ini menggerakkan mereka untuk  bersaksi tentang “Kristus yang Bangkit”  di manapun, dalam keadaaan bagaimanapun, dengan resiko maut sekalipun.   Mereka adalah “pejuang-pejuang awal” kekristenan atau berdirinya gereja. Karena itu dalam sejarah gereja dikenal ungkapan “darah para martyr adalah benih-benih pertumbuhan gereja”.   Ungkapan “darah”, menunjuk juga pada keringat, kerja keras, semangat pantang menyerah, kesediaan berkorban nyawa, berkorban jiwa, tenaga, waktu, dana dan keluarga.  Tugas keSAKSIan inilah ayng menjadi jantung dari tugas marturia atau Pekabaran Injil Gereja. 

Perjalanan Penginjilan Petrus  dalam perikop ini adalah perjumpaan-nya dengan Kornelius di Yope. Kota ini penting dalam sejarah Pekabaran Injil. Karena Yope, dan dari perjumpaan dan pekabaran Inil dalam keluarga Kornelius  maka pintu injil  mulai dibuka untuk bangsa-bangsa non Yahudi.   Yope, memang strategis.  Berada di Pantai Barat Irael di Laut Tengah.   Lukas, selaku jurnalis, rasul, dan sastrawan, ahli sejarah, seorang dokter,   menyampaikan kisah ini sebagai bagian penting dari sejarah kerasulan gereja abad pertama.   Pola-pola pelayanan dan isi kesaksiannya seperti yang dilakukan dan disaksikan Petrus saat berada di rumah Kornelius.  Pertama : “Keselamatan untuk seluruh bangsa”.  Allah mengasihi dunia ini, mengasihi semua orang, karena itu keselamatan ditawarkan untuk semua orang. Petrus bersaksi : “Sesungguhnya aku telah mengerti, bahwa Allah tidak membedakan orang. Setiap orang dari bangsa manapun yang takut akan Dia dan yang mengamalkan kebenaran berkenan kepada-Nya.” (Kis. 10:34-35). Keluarga Kornelisus dan para sahabatnya yang berada di dalam rumah itu,  baik orang Yahudi dan juga yang berlatarbelakang non-Yahudi, sangat bergembira mendengar kabar ini.  Kedua  : “Yesus, yang penuh Roh Kudus, menderita, mati di kayu salib dan dibangkitkan  adalah Tuhan untuk semua orang”. Yesus, mati dan bangkit bukan cuma untuk orang Yahudi tapi untuk semua orang.  Jangkauan Injil adalah universal, tak dapat ditahan dan dibatasi oleh sekat-sekat kebangsaan dan kesukuan.  Darah Yesus yang tertumpah, adalah untuk semua orang yang percaya dan menerima-Nya.   Ketiga :  “Dan kami adalah saksi dari segala sesuatu yang diperbuat-Nya di tanah Yudea maupun di Yerusalem” (Kis. 10:39).  Kesaksian yang benar dan hidup adalah pekabaran injil yang sejati.   Gereja atau warga gereja yang melaksanakan tugas ini  akan terus menerus dipakai-Nya.   Sebagaimana, Roh Kudus telah memakai para nabi untuk bersaksi  tentang Dia. Sekalipun mereka telah datang sebelum kelahiran-Nya dan Kebangkitan-Nya, tapi Allah telah memakai para nabi untuk bersaksi tentang Dia.   Para martyr atau pekabaran injil, seperti Petrus, melaksanakan tugas dan panggilannya dengan penuh keberanian, hikmat, dan kasih.  Karena itu dalam sejarah kekristenan, di mana Injil diberitan dengan   sejati  maka banyak orang memuliakan Allah, dan gereja bertumbuh dengan sangat signifikan. Gereja masa kini perlu memperlengkapi warga gereja untuk memiliki semangat para martyr, dengan tujuan utama bukan supaya gereja semakin besar, bukan keuangan gereja semakin banyak, dan keanggotaan gereja semakin bertambah. Tapi supaya  Allah dimuliakan, dan semakin banyak orang hidup dalam kepastian keselamatan.  Amin.