HARMONI

Renungan PINGGIR,  KEJADIAN 2 : 8 – 17



Oleh Pdt. Jemmy R. Matheos.

Harmoni alam.   Potret yang indah.  Serasi dan selaras.  Indah dan tenang.  Suatu “landscape” alam. Itulah taman Eden.  Memang  Eden … adalah penggambaran yang lengkap.  Di situ ada manusia  di sebelah timur, ada  berbagai pohon —yang menarik dan baik untuk di makan buahnya—, ada pohon kehidupan, serta  di tengah-tengahnya ada pohon pengetahuan yang baik dan jahat.  Ada satu sungai , yang bercabang empat,  dan terakhir ada manusia yang beraktivitas.  Ada 2 PAGAR, itu perintah Ilahi  : (1) jangan makan buah pohon pengetahuan baik dan jahat, (2) tugas mengusahakan dan memelihara taman itu.   Kontras, tapi saling melengkapi.  Bukan cuma landscape alam, tapi landscape kehidupan yang harmoni. Ibarat  “gitar”, tegangan tali sinarnya “distem” sehingga menghasilkan haromoni suara yang merdu dan indah.   Harmoni  —Yun. “harmonia”  (ἁρμονία), berarti “keselarasan” atau “keserasian”. Kata ini kemudian diadopsi ke dalam bahasa Latin sebagai “harmonia” dan akhirnya ke dalam bahasa Indonesia sebagai “Harmoni”.   Eden menyampaikan Harmoni alam dan kehidupan.     Semuanya saling melengkapi, saling membutuhkan, saling menopang, saling memberi warna, makna dan  arti.   John Milton  —pujangga Inggris abad  17  dalam puisi “paradise Lost”—  berkata   “Eden tempat indah yang damai, tenang, bahagia, ada banyak orang ingin kembali dan hidup di Eden”.   Demikianpun dengan Film “Return to Eden” —serial drama televisi Australia yang tayang di TVRI tahun 1978—   menceritakan suatu keluarga  menghadapi berbagai problem kehidupan  yang rindu untuk hidup berbahagia dan harmoni seperti di Eden.

Mengapa Eden mesti ditinggalkan  ?. Mengapa manusia mesti dihalau dan diusir dari   Eden  ???. Karena manusia merusak PAGARnya. Ada 4 fungsi  PAGAR : estetika, penenda batas, pengamanan, dan pengontrol akses.   Di Eden, ada 2 pagar yang indah dirusak dengan semena-mena.   Pagar PERTAMA, dirusak manusia karena “ingin menjadi seperti Allah”  (Kej.3 : 5b).   Pagar dirusak ingin memuaskan nafsu manusia untuk berkuasa.   Padahal, ini “bunuh diri”.   Saat pagar kehidupan dirusak oleh diri sendiri.    Sejak dari sanahlah manusia “terbiasa” manusia  gemar untuk merusak dan melewati pagar-pagarnya.  Karena   Tuhan berfirman : “tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kaumakan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”  (Kej. 2:17).  Sebenarnya peintah ini untuk melatih KETAATAN.   Dengan adanya pelatihan, maka manusia semakin mengenal sifat dan keberadaan Penciptanya, dan semakin mengenal dirinya sebagai ciptaan.  Allah Maha Kuasa dan Kasih, di Eden tak  “terhingga” berkat-berkat-Nya bagi manusia.  Manusia “ciptaan yang mulia”, mensyukuri  semua berkat-berkat itu  dan “taat”  serta menghormati  pagar-pagar-nya, sebagai ciptaan yang sempurna tapi terbatas.   Pagar KEDUA, manusia dari dulu sampai sekarang  tidak sungguh melaksanakan perintah Tuhan sebagaimana dalam Kej. 2:15“TUHAN Allah mengambil manusia itu dan menempatkannya dalam taman Eden untuk mengusahakan dan memelihara taman itu”.   –Ibr. “abad” = memelihara“shamar” = mengusahakan–.  PAGAR ini dirusaki manusia karena ingin memiliki dan berkuasa atas alam dan sesamanya.    Egoisme, keserakahan, dan keinginan berkuasa mencederai “warisan-warisan” Eden yang indah dan agung.  Tugas ini adalah 2 mandat  kudus  —seperti mandat mengabarkan Injil, dalam amanat Agung–  demikian juga mandat  untuk memelihara dan mengusahakan ini adalah tugas  seperti  mengabarkan injil dengan tujuan agar HARMONI kehidupan tetap terjaga.  Tuhan Yesus menyempurnakan harmoni alam, harmoni kehidupan, harmoni pelayanan  dengan HARMONI KASIH.  Kasih kepada Allah, selaras dengan kasih pada manusia (Mat.22:37-40).   Minggu ke-3 tahun 2026, kita diajak untuk menjaga dan memelihara harmoni alam dan harmoni kehidupan. Seperti harapan kita saat mendendangkan lagu INDAH SEBAGAI DI EDEN, dalam refreinnnya berkata : “Marilah hari mulia, hari penuh khalas, di tengah kerjamu ku harap, kau datang lekas-lekas”.  Amin